The Blog Under Maintenance

My Blog will be Unveiled Soon.

The Blog Under Maintenance

My Blog will be Unveiled Soon.

The Blog Under Maintenance

My Blog will be Unveiled Soon.

The Blog Under Maintenance

My Blog will be Unveiled Soon.

The Blog Under Maintenance

My Blog will be Unveiled Soon.

Senin, 02 Februari 2015

Stakeholder Analisis

Stakeholder adalah perorangan atau kelompok yang memiliki keterkaitan terhadap hasil dari suatu proses perencanaan atau kebijakan/kegiatan tertentu.
Businesses have different types of internal and external stakeholders, with different interests and priorities. Sometimes these interests can conflict.
Pengelolaan stakeholder merupakan sebuah rangkaian aktivitas yang dilakukan untuk menciptakan peluang melalui dialog antara perusahaan dan satu atau lebih stakeholder sebagai pegangan untuk meraih informasi dasar sebagai landasan pengambilan keputusan manajemen. Stakeholder engagement yang dilakukan oleh perusahaan/organisasi dalam rangka memperoleh pengakuan dan mempertahankan hubungan komunikasi diantara stakeholder (internal & eksternal) yang mempengaruhi kegiatan operasional perusahaan, diantaranya adalah Pegawai, Pemasok (suppliers), Pelanggan (customer), Komunitas, Pemerintah, Mass Media, Kelompok Penekan (LSM), dan lainnya. Pelibatan pemangku kepentingan (Stakeholder Engagement) adalah proses dimana organisasi melibatkan orang-orang yang mungkin akan terpengaruh oleh keputusan manajemen yang dapat membuat atau dapat mempengaruhi pelaksanaan keputusan baik yang bersifat mendukung atau menentang keputusan yang berdampak luas terhadap operasi bisnis perusahaan baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang. Stakeholder management plan merupakan rencana untuk mengidentifikasi stakeholder yang ada dalam proyek dan cara cara yang dilakukan untuk membuat stakeholder berjalan sesuai ranah kerjanya. Dalam stakeholder management plan alur komunikasi dijelaskan secara runtut, stakeholder mana saja yang harus informasi terbaru dalam pengerjaan proyek dan stakeholder mana yang tidak diberi informasi pun kerjanya masih berjalan dengan maksimal dengan catatan diberi informasi sesuai ranah kerjanya. Terdapat dua strategi untuk menjaga hubungan dengan stakeholder kedua strategi tersebut adalah Strategi Manage Closely diperuntukkan untuk stakeholder yang memiliki tingkat influence dan power yang tinggi terhadap keberlangsungan proyek. Strategi Keep Informed diperuntukkan untuk stakeholder yang memiliki tingkat influence tinggi dan tingkat power yang rendah terhadap keberlangsungan proyek. Dalam strategi ini, pihak-pihak yang terkait tidak terlalu diutamakan dibandingkan dengan stakeholder-stakeholder yang berada dalam kategori manage closely. Dalam strategi ini pihak pengembang hanya perlu mengabarkan hal-hal atau perubahan-perubahan penting yang terkait terhadap proyek yang sedang berlangsung.
Stakholder Utama dalam CSR: Pemerintah dan Perusahaan Menurut Utama (2010), bahwa tanggung sosial jawab perusahaan tidak hanya terhadap pemiliknya atau pemegang saham saja tetapi juga terhadap para stakeholders yang terkait dan/atau terkena dampak dari keberadaan perusahaan. Dalam menetapkan dan menjalankan strategi bisnisnya, perusahaan yang menjalankan CSR akan memperhatikan dampaknya terhadap kondisi sosial dan lingkungan, dan berupaya agar memberikan dampak positif. Utama (2010) menyatakan bahwa pemerintah beserta segenap jajarannya perlu memahami konteks CSR, karena ada keterpaduan dengan program pemerintah. Bukan tidak mungkin bila pemahaman terhadap konsep ini tidak sejajar, maka kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak akan pernah sejalan dengan kebijakan dunia usaha. Perlunya pemerintah duduk bersama dengan pelaku usaha, untuk mengkomunikasikan apa yang dibutuhkan masyarakat secara bersama, memberikan gambaran rencana kerja pemerintah yang terkait dengan kepentingan publik. Dengan demikian ada komunikasi dua arah, sehingga kemungkinan adanya kerjasama antara pemerintah dengan perusahaan menjadi terbuka semakin lebar, sehingga tidak terjadi overlapping program antara pemerintah dan perusahaan.

Jumat, 25 April 2014

Howard Schultz "CEO Return"

Entrepreuner adalah pembangun, dan lensa yang saya pakai untuk memandang Starbucks dan pasar agak berbeda dari lensa yang akan saya gunakan andaikata saya seorang manajer hasil sebuah pelatihan profesional-Howard Schultz
Mungkin kita tidak asing mendengar kisah Super Hero "Batman"... ya, dia adalah pahlawan yang dibutuhkan ketika terjadi suatu kekacuan, ketika Godham City mengalamai kekacuan, Batman akan datang untuk membantu,. sama seperti kisah seorang Entrepreuner Howard Schultz (CEO Starbucks) paling disegani ini bisa dikatakan jantung hidupnya Starbucks hingga sampai saat ini Starbucks tumbuh menjadi bisnis raksasa dunia yang menciptakan Coffe-Experience luar biasa pada setiap pelanggan,. ya, Howard Schultz memang sempat meninggqalkan jabatan CEO nya dan beralih menjadi Chairman di Starbucks. Jelas Tanggung Jawab dan Tugas CEO dengan Chairman berbeda,. bahkan beliau (Howard) walaupun diberi ruangan ekslusif perisis seperti CEO dengan jendela menghadap lautan Seattle, tapi dia begitu tampak asing di Starbucks karena dia sudah terbiasa bekerja sebagai CEO yang mengurus segala urusan Perusahaan.. sebagai Chairman tentu Howard dipercaya oleh Starbucks untuk merangkul Mitra-mitra Starbucks di Internasional.. seiring keberhasilan starbucks dalam berkspansi dengan terus-terusan membangun gerai-gerai ke setiap negara pendapatan Starbucks terus mengingkat, Mitra-mitra starbucks terus berpacu seperti lari marathon, hingga pada suatu titik tertentu mereka terpikir sambil berlari-lari "UNTUK APA KAMI BERLARI" ??? pada saat-sat tersebut Starbucks akhirnya berada pada titik belok atau seperti kata CEO nya Jim "Titik Kritis" tentu bagi seorang entrepreuner masa-masa titik kritis adalah suatu ujian yang sangat menentukan, yang akan gagal andai tidak dapat bercermin, mengakui kekurangan-kekurangan, dan yang paling penting menjalanai "TRANSFORMASI" atau bahkan perubahan yang mengguncang tatanan. disinilah kemampuan seorang Entrepreuner dibutuhkan! selagi masa-masa titik kritis itu, terjadi Dual Opinion antara CEO Jim dan Howard,. kenapa? apa penyebabnya? ya, "SANDWICH",. ada apa dengan Sandwich ???? gara gara makanan sarapan ini Store Experience Starbucks hilang mutunya, tentu Starbucks akan kehilangan unsur magisnya dan menyimpang dari warisannya, dan akan mengancam kelangsungan Starbucks di masa depan, seperti itu menurut Howard,.. akan tetapi Jim selaku CEO tetap kukuh bahwa Sandwich sangat mempengaruhi pendapatan Starbucks, Jim melihat di setiap kuartal keuangan, permintaan Starbucks terus tumbuh, jadi menurutnya Sandwich harus dipertahankan..
seiring berjalannya waktu, Howard mencium bahwa Aroma Sandwich telah mengalahkan aroma dari Kopi Espresso,. Ini bahaya!Saya Tidak tahan lagi! keju yang ada pada sandwich jika dipanaskan hingga cair baunya tidak enak dan sangat mengganggu,... setelah melalui pembicaraaan, akhirnya diputuskan Starbucks melakukan eksprimen dengan oven yang berbeda, melatih kembali para barista untuk lebih sering membersihkan oven dan mengganti kertas roti yang diapakai untuk mengalasi Sandwich. dan Waktu masak dikurangi guna mencegah keju meleleh.. pabrik-pabrik diminta merancang ulang oven2 agar pembakarannya tidak sampai masuk ke udara bebas,v orang operasi mencoba menyempurnakan pemanasan ruangan, ventilasi dan sisitem pengatur suhu utnuk mengenyahkan bau tidak sedap dari udara. Whoooooppppssss !!! dari semua langkah yang telah dilakukan Starbucks,. TIDAK ADA YANG BERHASIL ketidaksepakatan internal soal manfaat Sandwich terus meningkatkan ketegangan diantara pejabat-pejabat senior perusahaan.. masalah cuma ada dua bagi Starbucks: apakah tetap mengikuti data pelanggan atau mengikuti naluri Howard... hilangnya aroma kopi, praktik resteaming terhadap susu, mesin espresso yang terlalu jangkung, daftar itu semakin panjang dan membuat frustasi,. hal hal negatif semacam itu, kendati masing masing hanya sedikit, sama seperti mencabut benang helai demi helai dari tenunan, yang pada akhirnya akan membuat perusahaan gulung tikar. Saya melihatnya. Saya merasakannya. saya tidak dapat mengabaikannya, ucap Howard. setelah beberapa bulan, Howard tidak melihat perubahan yang cukup baik didalam perusahaan maupun di gerai gerai starbucks. hari demi hari kekecewaan semakin berkembang menjadi amarah, dan kadang-kadang kengerian, bahwa Starbucks akan kehilangan peluang untuk mengembalikan keajaiban itu. itulah saat ketika Howard mulai dengan serius untuk mempertimbangkan apakah saat kembali sebagai CEO sudah tiba.
Gerai Pertama Starbucks 1971 dikutip dari buku : Onward

Selasa, 04 Februari 2014

Bulding Emirates Stadium = Hard Work Pays Off

10 years of building the emirates: a period of success

By Walter Broeckx

As most of you will know we here at Untold have always been taking the patient way of looking at things when it comes  to X years of won nothing.

We have pointed at the changes in the PL where some clubs have rich sugar daddy owners who throw money around as if it is nothing. Well for them it probably is nothing. If people cannot see that this has a major impact on all Arsenal has done in the last 10 years then well nothing will make them see.

In fact and don’t worry Tony I will not be entering on your history ground but we do have a little thing to remember this summer. Because well it all started 10 years ago. It all started in July 2003 when the building of the Emirates started. Or better said the removal of what was on the ground before it became our brand new stadium.

Now when we over here point at those rich owners and at the fact that we build the stadium it gets brushed aside as nothing important. After all we are The Arsenal and should be competing. Now in order to compete you need rivals. And I thought it might be interesting to have a look at teams who also build a completely new stadium in the PL era. And I might have forgotten one so please feel free to fill in.

But first let me start with what Arsenal has done. We build the Emirates and works started as said in 2003 to have it finished in July 2006 for the first game in the new stadium ever with the Dennis Bergkamp testimonial game.  The total cost of this and I will use the same internet source for all the comparing with the “rivals” for building the Emirates is £470M. Or also £470.000.000. That is rather a shocking big sum of money.

Arsenal had to make sure that they would be able to pay that kind of money themselves. We had no sugar daddy to give it to us. And at the same time at Chelsea one turned up and spend money like mad.
All those years building we did win a few things at the start, still managed to get to a few finals along the way in the last 10 years. But yes after 2005 we didn’t win anything. But we managed to keep ourselves in the top 4 each season.

Now how did it work out for all those other clubs who build a new stadium like we did? Let us find out.
Southampton:  St Mary’s Stadium has been home to the Saints since August 2001. Relegation in 2004. Bankrupcy along the way. They came back to the PL  in 2012. And the capacity of the ground is 32.689. One could say half the Emirates. The building cost is said to have been  £37M. Or also £37.000.000. That is not even 10% of what we had to pay. And yet they ended in big big troubles.

Derby County : The Pride Park Stadium has been Derby’s home since 1997. At first things went rather well for a while. But then relegation came  in 2004 and they never came back. The capacity of the stadium is 33.502. And that is again half of the Emirates capacity. And the building cost is said to have been 28M. Or also £28.000.000. Again compared to the Emirates this is only 6% of the total cost we had to pay. And yet Derby paid a hefty price at the end.

Middlesbrough FC: The Riverside Stadium is the football stadium, which has been the home of Middlesbrough FC since it opened in 1995. But then trouble came along and they got relegated in 1997. They did came back in 1998 and things seemed to stay well but at the end they went down again in 2009 and stayed down since then. The capacity is  34.998. And the building cost at the time (some 10 years before the Emirates) was around £16M. Or also £16.000.000. That is not even 4% of the cost of the Emirates.
Coventry City: They moved to the Ricoh Arena in 2005.  After that they had a long  battle to remain in existence and for the moment they don’t have the stadium and are moved out. If anyone can inform me about how things stand please do. The capacity of the stadium is 32.604. Again half the Emirates capacity.  And the building cost was £113M. or also £113.000.000.  That is around 24% of the cost of the Emirates.

Leicester FC : moved to the then known Walkers stadium in 2002. A bit of a bad luck as the closing of their old ground coincided with them going down. Maybe the cost of the building a reason? I don’t know for sure but it could have something to do with it of course. They went bankrupt in oktober 2002. Nowhere near the Pl since then. The capacity of the stadium is  32.312 and again that is almost half the Emirates. And the total building cost was said to be £37M. Or also 37.000.000.  That is around 8% of the cost of the Emirates.

Bolton : The Reebok stadium was built in 1997. They got almost immediately relegated in 1998. But they did manage to come back in 2001. But now they are down again since 2012. The  capacity of the stadium is  28.100. And the building cost in those days was £25M. That is around 5% of the cost of the Emirates.
So all those 6 clubs who have build their new stadium like we did with the Emirates have gone down, went bankrupt went in to all kinds of troubles.

In fact the combined cost of those 6 stadiums is £256M. Those 6 stadiums together cost less than what the Emirates has cost Arsenal. This one club has to pay more than those 6 clubs had to pay all together.
Arsenal stayed in the top 4 in the 10 years since we started the building of the Emirates now 10 years ago. If people cannot see that as an immense success then I wonder when they will be happy.  If you can name me one club in a league as competitive as the PL who have build their stadium like we did, who have to face mega rich money around throwing owners at other clubs and stayed in the top 4 please do. I think the list will be very short.

And that is why I cannot talk of this period in time as  “a failure”. I think it is an unbelievable success. We could have been where the other 6 are or have been.